Perjuangan Aktivis Persamaan Hak dan Hukum untuk Legalitas LGBT di US – Keberadaan kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT seringkali menuai kecaman dari masyarakat umum. Stigma negatif yang menyebutkan bahwa kelompok ini memiliki kelainan kejiwaan dan melanggar norma kesusilaan membuat keberadaanya semakin sulit untuk diterima masyarakat. Bahkan tak sedikit yang melontarkan rasa kebencian dan serangan kekerasan kepada mereka karena merasa jijik dengan perilaku seksualnya. Kondisi ini membuat kelompok LGBT memiliki keterbatasan ruang untuk berkumpul dan memilih untuk menutup jati diri merekan serta bersembunyi dari kerumunan masyarakat. Bahkan, beberapa dari mereka terpaksa kehilangan hak-haknya sebagai warga negara karena adanya tekanan tersebut seperti hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk menikah, mendapatkan pendidikan, dan lain sebagainya.

Kelompok LGBT justru diterima dan diakui keberadaanya di berbagai negara seperti Kanada, Amerika Serikat (US), dan Meksiko. Selain diakui, hak-hak sebagai warga negara pada umumnya juga diberikan dan dilindungo oleh negara. Namun, untuk memperoleh status tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan adanya perjuangan yang panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk memperjuangkan hak-hak kelompok LGBT tersebut. Pengakuan keberadaan kelompok ini pun tidak semerta langsung diakui oleh masyarakat, tetapi diperlukan kesabaran dan waktu yang lama untuk membiasakan diri berkumpul dengan masyarakat sembari menunjukkan bahwa LGBT tidak seburuk yang mereka bayangkan.

Salah satu negara yang menjadi ujung tombak perjuangan kelompok LGBT dunia adalah Amerika Serikat (US). Kelompok ini pertama kali muncul dengan istilah homoseksual atau homofilia. Homoseksual sendiri merujuk pada ketertarikan seksual pada individu yang memiliki jenis kelamin atau gender sama seperti gay maupun lesbian. Kelompok ini menempati suatu wilayah bernama Greenwich Village untuk memudahkan mereka berkumpul sebagai sesama anggota kelompok sembari menunjukkan kepada masyarakat secara perlahan. Bahkan di wilayah ini terdapat bar atau klub malam yang dikenal sebagai tempat nongkrong kelompok LGBT bernama Stonewall Inn.

Seiring dengan semakin memanasnya situasi politik di US dengan muncul berbagai gerakan sosial dan demonstrasi seperti gerakan perjuangan hak sipil Afrika-Amerika dan gerakan penentangan keikutsertaan US dalam perang Vietnam membuat Kepolisian Kota New York rutin menggelar razia keamanan. Ketika polisi Kota New York datan dan merezia bar Stonewall Inn, terjadilah ketegangan antara kelompok LGBT selaku pengunjung bar dengan pihak kepolisian. Ketegangan ini memicu munculnya kerumunan orang yang mayoritas adalah kelompok LGBT. Kerumunan pun memuncak dengan terjadinya aksi kerusuhan di sekitar lokasi Greenwich Village hingga beberapa hari tepatnya tanggal 28 Juni sampai 1 Juli 1969. Berbagai kerugian pun timbul akibat kerusuhan yang terjadi seperti rusaknya hunian dan fasilitas umum serta timbulnya korban jiwa dari kedua pihak yang bersitegang.

Perjuangan Aktivis Persamaan Hak dan Hukum untuk Legalitas LGBT

Insiden kerusuhan di Stonewall Inn, Greenwich Villaga tersebut dijadikan sebagai momentum perjuangan hak kelompok LGBT. Setelah terjadi kerusuhan tersebut, dengan cepat kelompok LGBT membentuk berbagai grup-grup kecil dengan orientasi seksualnya masing-masing dan menggunakan berbagai media informasi untuk menyebarkan hak-hak kaum LGBT seperti media cetak (koran) dan siaran radio. Dalam kurun waktu enam bulan pasca insiden kerusuhan, dua organisasi aktivis homoseksual berhasil dibentuk di New York dengan fokus utama untuk memperjuangkan hak-hak kelompok LGBT dan taktik konfrontasi. Sedangkan tahun-tahun berikutnya, organisasi hak-hak LGBT mulai bermunculan hampir di seluruh Amerika Serikat (US).

Parade kelompok LGBT pertama kali diselenggarakan untuk memperingati satu tahun insiden kerusuhan Stonewall Inn tepatnya pada tanggal 28 Juni 1970 atau dikenal sebagai Christopher Street Liberation Day. Bahkan di lokasi ini juga didirikan Monumen Nasional Stonewall untuk menghormati gerakan kelompok LGBT pertama di US dan diresmikan oleh mantan presiden Barrack Obama pada tahun 2016. Perjuangan kelompok LGBT di seluruh dunia pun terus berlanjut hingga saat ini. Salah satu pencapaian terbaik dari gerakan kelompok LGBT US adalah disahkannya pernikahan sesama jenis oleh Mahkamah Agung Amerika Serikt. Keputusan ini diambil setelah pimimpunan kelompok LGBT mengajukan gugatan agar pernikahan sesama jenis bisa disahkan. Mereka menilai pernikahan sebagai ikatan tertinggi yang dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita tertinggi dari kasih sayang, cinta, kesetiaan, pengorbanan, dan keluarga.