Ribuan Orang Bergabung di Budapest Pride March Untuk Memprotes Hukum LGBT – Ribuan orang bergabung dengan pawai tahunan Budapest Pride pada 24 Juli untuk menunjukkan dukungan bagi komunitas LGBT dan memprotes undang-undang Hungaria yang melarang “promosi” homoseksualitas atau perubahan gender kepada anak di bawah umur.

Ribuan Orang Bergabung di Budapest Pride March Untuk Memprotes Hukum LGBT

getequal – Undang-undang baru, yang mulai berlaku awal bulan ini, telah menjadi target komunitas LGBT Eropa dan sekutu mereka, membuat pemerintah konservatif Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban kembali berselisih dengan Brussels.

Melansir rferl, Komisi Eropa pekan lalu meluncurkan tindakan hukum terhadap Budapest atas undang-undang baru tersebut, dengan mengatakan undang-undang itueksklusif serta berlawanan dengan nilai- nilai keterbukaan Eropa serta kebebasan individu.

Partai nasionalis Orban Fidesz mengatakan tindakan terkait LGBT, yang ditambahkan pada menit terakhir ke undang-undang yang memperkuat kejahatan pedofilia, bertujuan untuk melindungi anak-anak dan keluarga dan tidak menargetkan kaum homoseksual dewasa.

Baca juga : Hak LGBTQ dan Diskriminasi Identitas Gender

Pawai tersebut melintasi pusat Budapest dan menyeberangi Sungai Danube, menarik beberapa ribu orang dari seluruh Hungaria dan Eropa.

Demonstran mengatakan undang-undang itu hanya tindakan pemerintah terbaru yang menargetkan komunitas LGBT, menyusul larangan efektif tahun lalu pada adopsi oleh pasangan sesama jenis dan perubahan gender dalam dokumen pribadi. Hongaria tidak pernah mengizinkan pernikahan gay tetapi masih mengakui serikat sipil.

“Pemerintah telah melanjutkan kampanyenya yang terkenal, eksklusif, dan menstigmatisasi komunitas LGBTQ,” kata Budapest Pride. “Sementara media mereka meneruskan pesan menghasut mereka, mereka menggunakan instrumen hukum mereka untuk mencegah adopsi orang tua tunggal, dan perubahan nama dan gender.”

Lebih dari 40 kedutaan dan lembaga budaya asing di Hongaria mengeluarkan pernyataan yang mendukung Budapest Pride.

“Khawatir dengan perkembangan terakhir yang mengancam prinsip nondiskriminasi atas dasar orientasi seksual atau identitas gender, kami mendorong langkah- langkah di tiap negara buat menentukan kesetaraan serta martabat seluruh orang terbebas dari arah seksual ataupun identitas gender mereka,” tulis para penandatangan, termasuk kedutaan besar AS, Inggris, dan Jerman

Orban, yang juga berencana melakukan referendum mengenai RUU kontroversial itu, menghadapi pemilihan yang sulit tahun depan di tengah meningkatnya kesulitan ekonomi yang diperburuk oleh pandemi virus corona.

Para kritikus mengatakan pemerintah sayap kanannya telah meningkatkan kampanyenya melawan orang-orang LGBT sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menggambarkan dirinya sebagai penjaga nilai-nilai Kristen melawan liberalisme Barat yang juga termasuk memblokir migran dari transit di Hongaria dan menutup lembaga media liberal milik swasta. .

Undang-undang yang kontroversial juga mensyaratkan bahwa hanya organisasi sipil yang disetujui oleh pemerintah yang dapat memberikan pendidikan seksual di sekolah dan membatasi konten media dan literatur untuk anak di bawah umur yang membahas orientasi seksual.

“Hukum adalah kemarahan. Kita hidup di abad ke-21, ketika hal-hal seperti itu seharusnya tidak terjadi. Kita tidak lagi di masa komunis, ini adalah UE dan setiap orang harus dapat hidup bebas,” kata Istvan, 27, di pawai dengan pacarnya.

Penguasa Orban Fidesz- Kristen Demokrat, yang mendapati seleksi yang susah tahun depan, berkata hak- hak LGBTQ serta masalah sosial lainnya adalah masalah yang harus diputuskan oleh pemerintah nasional. Dibilang hukum itu bermaksud buat mencegah anak- anak tidak menargetkan homoseksual.

Penyelenggara berkata dalam suatu pernyataan bahwa rapat biasa itu akan membuktikan antipati terhadap “politisi yang haus kekuasaan” serta menyangkal intimidasi kepada banyak orang LGBTQ.

“Alih- alih menjaga minoritas, penguasa Demokrat Fidesz- Kristen memakai hukum untuk membuat unit komunitas LGBTQ terbuang di negeri mereka sendiri,” kata mereka.

Orban berutang sebagian kesuksesan pemilihannya ke garis keras pada imigrasi. Sebab rumor itu sudah surut dari skedul politik,fokusnya sudah beralih ke isu- isu gender serta seksualitas.

‘Tidak lebih dari pengalihan’

Boglarka Balazs, seseorang ahli ekonomi berumur 25 tahun yang berasosiasi dalam rapat biasa itu, berkata hukum itu merupakan perlengkapan kampanye. “Ini tidak lebih dari pengalihan yang mencoba memecah belah negara. Ini provokasi karena pemilu,” katanya.

Sebuah survei bulan lalu oleh organisasi jajak opini Ipsos mendapatkan kalau 46% orang Hungaria mensupport perkawinan sesama jenis.

Lebih dari 40 kedutaan dan lembaga budaya asing di Hongaria mengeluarkan pernyataan yang mendukung Festival Kebanggaan Budapest.

“Kita mendesak langkah- langkah di tiap negeri buat menentukan kesetaraan serta martabat seluruh orangterbebas dari arah seksual ataupun identitas kelamin mereka,” catat para penandatangan, termasuk kedutaan besar AS, Inggris dan Jerman.

Balint Berta, 29, yang bertugas di penjual busana, berkata hukum itu menghasilkan ketegangan buatan di warga.” Terus menjadi politik menghasut ini, warga akan berbalik serta banyak orang akan berbalik melawan satu sama lain sesudah beberapa saat,” tuturnya.